Apakah warga Pekalongan masih bisa mempertahankan kebiasaan ngiras? Habit mengudap makanan di luar rumah? Di tengah penurunan daya beli masyarakat yang kian mengkhawatirkan?
Adalah jenama @palmes.id , pemain kue kering yang lama menasional malah membuka pusat oleh-oleh di kota Pekalongan. Lengkap dengan @kantinpalmes yang memberi kesempatan taoto tjarlam, sate pak Rochani. Begitupun garang asem haji Masduki, dua lapak luringnya masih melayani dari kompleks perkantoran alun-alun dan jalan jendral Sudirman @warungmasduki. Mereka bahkan berhasil membukukan ‘Legenda
Kuliner Pekalongan’.
Tidak terhitung beberapa pihak membuka kuliner khas daerahnya di kota batik dunia ini. Di daerah Tegalrejo bisa kita temui perantau asal Makassar mengenalkan menu nasi kuning Makassar. @warung_mks meski dengan jenama sama tetapi juga menyediakan menu khas lain.
Citro Utomo, cofounder Oemah Moesik Pekalongan, memperkenalkan sate ayam gagrak Blora di jalan tentara pelajar. Syarifudin dengan khazanah khas asal istrinya Bengkulu, @miepangsit_bengkulu, di gang sekitar kanzus sholawat noyontaan. Berbeda dengan Fernia Niken, pemilik @nasigandulmbakniek khas Pati. Juga mempopulerkan pentol keriting khas Jawa Timur di jalan Rinjani nomer 2. Kuliner dari tepung tapioka tapi serasa menikmati dimsum ala kampung, dijamin tidak mau berhenti alias nyandu. Di teras kantor Radar Pekalongan jalan bina griya raya, kita temukan @tansu.narto menyediakan kopi tiam ketan, roti bakar bahkan dawet beras pun ada. Pasangan Dudi memperkenalkan pempek Palembang otentik, @pempekrhazes .
Semoga kian banyak kuliner khas yang buka di Pekalongan. Yuk kita larisi duta-duta kuliner khas di kota Pekalongan. Lhesske!
Tim Redaksi:
Djudjur Toto Susila Penulis
Djudjur Toto Susila Editor
Djudjur Toto Susila Pimpinan Redaksi Lhesske.com
TERBARU DARI MINORITY
Ndewe
MENGENAL SYU’BAH ASA
Posted on
Ndewe
MAS AI : MEMBERSAMAI ANAK DIFABEL BELAJAR FOTOGRAFI