Oleh Lhesske.com, 13 Juli 2025
MENANAM ARSIP SOSIAL KRAPYAK
Mengapa khazanah kuliner khas yang diaktivasi warga krapyak melalui festival? Setelah lopis raksasa kini pada bulan muharam, bubur suro? Selain karena kesadaran ritual ada pula sejarah sosial warga krapyak untuk hadir dan menyebarkan nilai, makna dari perayaan pasca puasa syawal serta festival bubur suro paling tidak mengingat peralihan tahun baru hijriah / kalender jawa. Kedua menandai peristiwa kapal nabi Nuh selamat dari banjir bandang, ketiga mengenang tragedi cucu nabi Muhammad SAW di padang karbala.
Presentasi festival bubur suro dari tahun ke tahun biasanya dibaca sekedar penyelenggaraan event budaya. Sehingga yang mengemuka adalah urutan acara yang menyasar publik yang akan dituju. Perputaran ekonomi terhadap ekonomi lokal. Public Relations Value dari festival. Belajar dari arsitek ugahari dari Yogyakarta, Yoshi Fajar Kresno Murti, ia mengenalkan konsep pengarsipan. Sehingga kami memilih peristiwa festival bubur suro yang berlangsung dari tanggal 12 sampai 14 juli 2025 adalah praktek menanam arsip sosial warga krapyak.
Pilihan jalan truntum menggantikan jalan jlamprang sebagai lokus pertama festival bubur suro adalah bentuk akomodasi keberatan para pengguna jalan jlamprang sebagai jalan utama warga krapyak. Kedua kepadatan di sekitar masjid Aulia tidak memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan festival, seperti terbatasnya area parker, perluasan booth pameran umkm dan pasar jajan, venue utama festival yang selama dua tahun ini memanfaatkan lahan dari bekas sawah lestari karena rob menjadi semi rawa. Pemaksimalan material dan vegetasi lokal sebagai kontruksi maupun aksesoris properti festival. Rasanya menampilkan jiwa warga krapyak selain mumpuni memproduksi kuliner khas juga menunjukkan tingginya keundagian, pertamanan, konservasi barang antik, kurasi instalasi berbahan dari apa yang ada di kelurahan krapyak. Serasa sedang berada di museum sehari-hari Eko Prawoto versi mini. Instalasi lettering festival bubur suro berlatar kertas koran, menghardik para hadirin yang datang. Ia menandai turunnya industri media cetak, menyusutnya para pembaca koran, perebutan media berbasis layar, baik layar televisi maupun ponsel. Jebakan nostalgia generasi baby boomer kalau tidak membaca koran akan pusing seharian.
Panitia festival bubur suro terdiri dari berbagai generasi. Mendiskusikan tema “ Merawat Jejak Leluhur” menurunkan dalam rangkaian acara, bahkan untuk tahun ini menargetkan agar masuk dalam program KEN Kementerian Pariwisata tahun depan. Nyawiji Gegayuh, Keselarasan Dalam Keberagaman, Wohing Pakaryan Gemgrugute Warga Krapyak, sebenarnya sedang menanam arsip sosial warga krapyak melalui festival. Saatnya kita memproduksi pengetahuan tentang penanaman arsip sosial ini. Lhesske!
Tim Redaksi:
Djudjur Toto Susila
Penulis
Djudjur Toto Susila
Editor